​JAKARTA, Teropong visual. Com — Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menegaskan bahwa program transmigrasi saat ini bukan sekadar pemindahan penduduk, melainkan strategi utama pemberdayaan masyarakat lokal dan pemacu pertumbuhan ekonomi kawasan. Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengungkapkan, integrasi sosial yang harmonis antara pendatang dan warga lokal menjadi bukti sukses yang memicu tingginya permintaan pembukaan kawasan baru dari para kepala daerah.

​61 Bupati Berebut Area Baru dan Harmonisasi Warga

​Keberhasilan integrasi sosial terlihat nyata di lapangan, salah satunya di Kota Subulussalam, Aceh, di mana warga lokal dan transmigran hidup rukun serta berdampingan secara harmonis. Dampak positif ini mendorong puluhan pemerintah daerah mengajukan usulan pembukaan wilayah transmigrasi di daerah masing-masing.

  • ​61 Proposal Bupati: Sebanyak 61 proposal dari para bupati telah masuk ke Kementrans untuk meminta pembukaan kawasan transmigrasi baru.
  • ​Membuka Wilayah Terisolasi: Program ini terbukti mengonversi wilayah yang dulunya tak berpenghuni atau terisolasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang terbuka.

​Komoditas Unggulan Tembus Pasar Ekspor

​Pengembangan kawasan transmigrasi difokuskan pada pemanfaatan potensi lokal agar menjadi komoditas bernilai tinggi. Sektor yang dikembangkan meliputi:

  • ​Pertanian & Perkebunan: Padi, kelapa sawit, kakao, cokelat, durian, cengkih, kopi, dan tebu.
  • ​Sektor Lain: Perikanan dan pariwisata daerah.
  • ​Skala Pasar: Hasil produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga telah berhasil menembus pasar ekspor.

​Terjunkan 1.476 Akademisi dari 10 Kampus Top

​Untuk mempercepat industrialisasi dan pembukaan lapangan kerja, Kementrans menggandeng 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia (UI, IPB, ITB, Unpad, UGM, Undip, ITS, Unair, UB, dan Unhas) melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.

​Sebanyak 1.476 personil akademisi dikirim ke 53 kawasan transmigrasi untuk merealisasikan hasil riset menjadi model dan prototipe bisnis nyata, dengan rincian:

  • ​39 Guru Besar
  • ​158 Doktor
  • ​263 Magister
  • ​1.016 Sarjana

​Langkah strategis ini diharapkan dapat memicu timbulnya kawasan pertumbuhan ekonomi baru yang tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menyerap banyak tenaga kerja lokal.  (Tim/Red)