MAKASSAR, Teropong Visual.Com— Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Makassar Utara. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung selama tiga hari terakhir dan mulai mengganggu aktivitas masyarakat. 
Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Pada saat yang sama, warga mengaku kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. 
Pantauan di wilayah Barukang, Kecamatan Ujung Tanah, serta Kelurahan Pattingalloang, menunjukkan adanya keterbatasan pasokan BBM dan gas elpiji. Warga bahkan harus mencari pasokan ke sejumlah lokasi lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kelangkaan BBM dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja maupun menjalankan aktivitas lainnya. Sementara sulitnya memperoleh gas elpiji 3 kilogram menjadi persoalan tersendiri bagi warga yang mengandalkannya untuk kebutuhan memasak.
Salah seorang warga, Ria, mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Ia meminta pemerintah dan pihak terkait segera melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM dan gas elpiji agar pasokan kembali normal.
“Kami sangat kecewa dengan situasi ini. Sudah tiga hari berturut-turut BBM dan gas elpiji sulit didapatkan. Pemerintah harus segera mengontrol distribusi agar pasokan kembali normal,” ujar Ria saat ditemui di lokasi, Rabu (9/9).
Menurut warga, kondisi tersebut bukan hanya menyulitkan masyarakat memperoleh kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyebabkan antrean kendaraan mengular di sejumlah titik pengisian BBM.
Hingga berita ini diturunkan, antrean kendaraan masih terlihat di sejumlah SPBU di wilayah Makassar Utara. Sementara itu, persediaan gas elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer disebut telah habis.
Warga berharap Pemerintah Kota Makassar bersama instansi terkait dan pihak Pertamina segera turun ke lapangan untuk memastikan penyebab terganggunya pasokan serta mengambil langkah cepat agar distribusi BBM dan gas elpiji kembali normal.
Masyarakat juga meminta adanya transparansi mengenai kondisi stok dan distribusi, sehingga tidak terjadi kepanikan maupun penumpukan antrean yang berkepanjangan.(onil/Ical)







